Sebanyak 240 peserta turut berpartisipasi dalam Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) DIY 2026 yang berlangsung di Pintu Barat Kompleks Kepatihan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (31/10). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T. (Sekretaris Daerah DIY), Dr. R.B. Dwi Wahyu Budianto, S.Pd., M.Si. (Ketua Komisi D DPRD DIY Bidang Kesejahteraan Masyarakat), dan Bapak Faishol Muslim, S.I.P., M.Si. (Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda DIY).
Sebanyak 80 peserta yang terdiri dari perwakilan 16 Tim Penggerak Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) kabupaten/kota dan provinsi serta 8 organisasi masyarakat sipil dan organisasi penyandang disabilitas mengikuti Rapat Koordinasi Nasional TPKJM Pusat dan Daerah di Gedhong Pracimasono Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (30/10). Rapat dipimpin oleh Asisten Deputi Kemenko PMK, Linda Restaningrum, dan disambut oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda DIY, Faishol Muslim, S.I.P., M.Si.; Direktur Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Birgitta Anggre Hapsari; serta First Secretary GEDSI Australian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Elena Martin Avila. Pertemuan ini menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, berbagi pembelajaran, serta merumuskan langkah bersama dalam mendorong layanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.
Bekerja dari rumah, membuka usaha sendiri, atau menjadi pekerja informal sering kali terlihat sebagai pilihan yang datang dari keinginan seseorang. Namun, bagi sebagian teman difabel, pilihan tersebut juga tidak terlepas dari terbatasnya kesempatan dan berbagai hambatan yang masih mereka hadapi di dunia kerja formal. Salah satunya dapat terlihat dari cerita Bu Yani, yang akhirnya memilih untuk merintis usaha menjahit dari rumah. Sebuah pilihan yang lahir melalui proses panjang untuk membangun keterampilan, pengalaman, dan kepercayaan diri.
Awal 2023, Noval datang ke sebuah coffee shop tanpa membawa ekspektasi apa-apa. Ia hanya mengikuti ajakan temannya, Zamar, sekadar mampir, sekedar minum kopi, seperti ratusan kali ia lakukan di tempat lain. Tidak ada yang terasa istimewa dari rencana sore itu. "Setahuku ya kopi-kopi konvensional," kenangnya. Ia bahkan sempat mengira tempat itu tak jauh berbeda dari coffee shop pada umumnya, sampai ia benar-benar duduk, memesan, dan menyadari sesuatu yang berbeda dari barista yang meraciknya.