Harapan Zega: Saya Ada, Saya Bicara, Saya Berdaya

Selasa, 05 Mei 2026

Di tanah Nias yang dikenal dengan lompat batunya, di balik label wilayah "3T" yang menyematkan predikat Terdepan, Terluar, dan Tertinggal, tersimpan sebuah realitas yang jarang tersorot lampu kamera milik media massa. Di sebuah sudut Desa Loloana’a Lolomoyo, ada cerita-cerita yang tenggelam di antara pecahan ombak dan rimbunnya kebun; cerita tentang kawan difabel yang "tak terlihat" meski berada di tengah keramaian. 

Namun, di balik angka-angka statistik kemiskinan atau peta wilayah terpencil, sesungguhnya ada jiwa yang sedang berjuang melawan sunyi. Stigma seringkali tumbuh lebih subur daripada pembangunan, menciptakan sekat yang memisahkan kawan non difabel yang dianggap "mampu" dengan kawan difabel yang dianggap "berbeda". Di tengah desa yang tampak tenang itulah, kita menemukan sosok yang mewakili ribuan suara yang selama ini terbungkam oleh keadaan.

Bagi Harapan Zega, jarak terpanjang di Desa Loloana’a Lolomoyo bukanlah kiloan meter jalan setapak, melainkan jarak dari pintu rumahnya menuju keramaian warga. Sebagai seorang difabel fisik, Harapan terbiasa hidup dengan kesunyian. Ia seringkali merasa bahwa kehadirannya di tengah masyarakat hanyalah sebuah gangguan atau lebih buruk lagi, objek rasa iba. Perasaan tidak berdaya ini perlahan membangun dinding tebal yang membuatnya lebih memilih mengurung diri. Baginya, dunia luar terasa asing, seolah-olah kursi untuknya dalam pertemuan warga memang tidak pernah disediakan.

Perasaan yang dialami Harapan bukanlah keputusasaan yang sendirian. Di balik pintu-pintu rumah lain di Loloana’a Lolomoyo, ternyata ada jiwa-jiwa lain yang memendam keresahan serupa. Mereka adalah kawan-kawan difabel dan keluarga yang selama ini bergerak dalam bayang-bayang, tertekan rasa malu yang sebenarnya tidak perlu, dan kebingungan harus memulai perubahan dari mana. Masalahnya selama ini kawan difabel dipisahkan oleh stigma yang tinggi di masyarakat, sehingga suara kawan-kawan yang terpisah-pisah tidak pernah terdengar menjadi satu kekuatan.

Kesadaran bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendirian inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya kolaborasi. Melalui Program DIGNITY INKLUSI yang dijalankan oleh CDRM & CDS dengan dukungan Pusat Rehabilitasi YAKKUM, sebuah gagasan sederhana namun revolusioner diperkenalkan: Self Help Group (SHG) atau Kelompok Swabantu. Ini bukan sekadar pertemuan rutin untuk menggugurkan kewajiban program, melainkan sebuah ikhtiar untuk meruntuhkan tembok penyekat yang ada di masyarakat tadi.

Di sebuah ruang sederhana di desa, untuk pertama kalinya Harapan duduk melingkar dengan orang-orang yang memiliki tantangan hidup yang serupa dengannya. Di dalam lingkaran SHG, tatapan merendahkan yang biasa ia temui di luar mendadak hilang, digantikan oleh sorot mata yang memahami satu sama lain tanpa perlu banyak kata.

Di sini, Harapan tidak lagi dipandang sebagai "si orang berbeda" yang hanya pantas menerima bantuan, melainkan sebagai kawan seperjuangan. Pertemuan demi pertemuan bertransformasi menjadi laboratorium kemanusiaan yang hangat; tempat kawan-kawan difabel, termasuk difabel psikososial tidak hanya berbagi keluh kesah, tetapi juga mulai memahami hak-hak mereka sebagai warga negara. Mereka mulai menyadari bahwa keterbatasan fisik dan psikis bukanlah alasan untuk kehilangan suara di meja pengambilan keputusan desanya. Di SHG, perasaan saling memiliki berubah menjadi fondasi kekuatan untuk mulai melangkah keluar bersama-sama.

Setelah rasa nyaman mulai tumbuh di dalam lingkaran SHG, tantangan berikutnya muncul: bagaimana membawa suara-suara yang mulai tumbuh di ruang aman ini ke telinga dunia luar? Selama ini, bagi banyak anggota kelompok, diam adalah cara untuk bertahan hidup agar tidak menjadi pusat perhatian. Namun, kawan-kawan difabel menyadari bahwa selama mereka memilih diam, keputusan-keputusan yang menyangkut hidupnya di desa akan selalu diambil oleh orang lain tanpa pernah melibatkan mereka.

Kesadaran inilah yang mendasari langkah selanjutnya dalam Program DIGNITY INKLUSI, yaitu pelatihan public speaking. Bagi orang awam, berbicara di depan umum mungkin hanya soal teknik, namun bagi Harapan Zega, ini adalah pertaruhan mental yang luar biasa besar. Ini bukan sekadar latihan merangkai kata, melainkan latihan untuk "mengambil tempat" yang selama ini ia lepaskan.

Awalnya, suasana pelatihan terasa mencekam bagi Harapan. Bayangkan seorang pria yang selama bertahun-tahun membangun benteng kesunyian di rumahnya, kini diminta berdiri di hadapan orang banyak dengan sebuah mikrofon di tangan. Pada percobaan pertama, suaranya nyaris tidak terdengar, tenggelam oleh degup jantung yang kencang. Telapak tangannya berkeringat dingin, dan kalimat-kalimat yang sudah disusun di kepala mendadak buyar saat menatap mata peserta lain.

Namun, di sinilah keajaiban kelompok swabantu bekerja. Tidak ada sorakan mencemooh saat ia terbata-bata. Sebaliknya, kawan-kawan difabel memberikan tepuk tangan semangat seolah berkata: "Kami juga takut, tapi mari kita coba bersama." Dukungan tanpa henti dari pendamping CDRM & CDS dan kawan-kawannya membuat Harapan perlahan melepaskan beban di pundaknya. Ia mulai berlatih mengatur napas, menata alur bicara, hingga akhirnya ia menyadari satu hal penting bahwa pendapatnya tentang aksesibilitas, pengalamannya sebagai difabel, dan aspirasinya sebagai warga desa adalah informasi yang sangat berharga. Ia tidak lagi sekadar bicara, namun ia sedang belajar menegaskan keberadaannya.

Semua latihan, keringat dingin, dan keraguan itu akhirnya bertemu pada satu pembuktian di bulan Maret 2026. Balai desa yang biasanya hanya menjadi tempat ia menundukkan kepala, hari itu penuh dengan kehadiran anggota SHG dan warga lainnya. Namun, ada yang berbeda kali ini. Harapan Zega tidak lagi duduk di barisan paling belakang, mencoba untuk tidak terlihat di balik bayang-bayang orang lain.

Hari itu, ia melangkah ke depan. Tangannya meraih mikrofon dengan mantap. Saat suaranya menggema melalui pengeras suara, suasana ruangan mendadak khidmat. Harapan berdiri di sana bukan hanya sebagai peserta, melainkan sebagai MC (Pembawa Acara) yang mengendalikan seluruh jalannya kegiatan.

Ia menyapa hadirin dengan senyum yang tidak lagi dipaksakan. Ia mengatur alur pembicaraan, mempersilakan narasumber bicara, dan sesekali menyisipkan refleksi tentang betapa berharganya ruang inklusi bagi orang-orang seperti dirinya. Di titik itu, ia tidak sedang "berakting" menjadi orang berani. Ia sedang menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Tatapan mata rekan-rekannya di SHG penuh dengan rasa bangga, seolah mereka melihat cermin dari kemungkinan masa depan mereka sendiri. Pengalaman memimpin acara ini menjadi tonggak sejarah kecil di Loloana’a Lolomoyo. Sebuah pesan tanpa kata bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa memenjarakan pikiran yang merdeka.

 
5 Mei 2026
Penulis: Alfitra Yossie Putrijaya