Gen Z dan Self-Diagnose: Mengenal Diri atau Hanya Sekedar Tren?
“Masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh Ini belum separuhnya, biasa saja, kamu tak apa”- Evaluasi, Hindia.
Dibalik lirik yang mengalun di sudut-sudut coffeshop tempat para remaja berkumpul, lagu tidak hanya sekedar melodi, lagu menjadi salah satu media untuk menyelami frekuensi Gen Z. Ungkapan dalam lirik seakan menjadi afirmasi ketika hati dan pikiran mulai riuh, sekaligus menjadi jendela untuk melihat kondisi mental yang terjadi pada remaja hari ini. Namun, muncul pertanyaan besar? Apakah lagu ini didengar untuk mengakui kerapuhan diri sehingga mencari jalan untuk pulih atau justru membuat semakin tenggelam dalam kesedihan? Faktanya, terdapat realita yang seringkali luput dari pandangan kita. Dalam data yang dimuat WHO, 1 dari 7 remaja usia 10-19 tahun di dunia mengalami gangguan mental (sekitar 14% dari populasi remaja global). Ini bukan hanya sekedar angka, tapi yang sesungguhnya terjadi pada remaja di sekitar kita.
Akses terhadap informasi memang menjadi semakin mudah, termasuk informasi tentang kesehatan mental. Kita menjadi terbiasa dengan berbagai istilah diagnosa klinis yang sebelumnya hanya dibicarakan pada tataran medis, sekarang seakan menjadi tren, istilah gangguan kesehatan mental sering menjadi topik yang bermunculan di beranda sosial media kita. Tetapi keterbukaan informasi ini bak pisau bermata dua, yang kerap membuat remaja saat ini menjadi rentan terhadap distorsi informasi yang bisa mengaburkan esensi dari pemulihan itu sendiri.
Hal ini sejalan dengan laporan yang dicatat melalui pengamatan UNICEF, Remaja mengalami perubahan perilaku konsumsi informasi. Remaja saat ini cenderung memiliki preferensi kuat terhadap konten audio-visual karena kemudahan aksesibilitas yang dapat dilakukan sembari melakukan kegiatan lainnya (multi-tasking). Ini adalah kemajuan jika dilihat secara teknis, tapi jika dilihat lebih jauh, penyampaian substansi menjadi sebuah tantangan bersama. Pengemasan konten yang terlalu singkat, berdampak pada penyederhanaan tanpa menyentuh akar permasalahan. Algoritma juga menciptakan mekanisme untuk secara terus menerus menyuguhkan informasi yang memvalidasi ketakutan seseorang. Stimulasi ini memberi batas tipis antara pemahaman kesehatan mental yang semu dengan kesadaran untuk pulih, akibatnya pemahaman kesehatan mental yang hanya dibahas pada permukaan menjadi sekedar tontonan tanpa upaya untuk pulih dan berdaya. Lalu bagaimana cara untuk dapat menciptakan ruang yang benar-benar sehat mental? dan memahami makna kesehatan mental itu sendiri secara utuh?
Memaknai Pulih
Usia remaja adalah fase krusial, ini adalah waktu di mana remaja mencari jati diri dan memerlukan validasi sebagai kebutuhan psikologisnya. Di saat yang sama, remaja juga sedang menghadapi masa perubahan secara biologis, tuntutan akademis hingga dinamika emosi yang tidak selalu mudah dipahami.
Ketika keluarga maupun lingkungan sekolah gagal memberikan ruang aman untuk validasi, algoritma media sosial hadir menggantikan peran tersebut. Memberikan perasaan yang terasa dekat dan membuat seorang remaja merasa dirinya sudah terdiagnosa lewat media sosial itu sendiri. Tanpa adanya kapasitas untuk menyaring konten yang tidak relevan, kita akan merasa divalidasi dengan pemahaman yang terasa benar, tetapi belum tentu membantu.
Fenomena self-diagnose ini juga menjadi topik yang menjadi perhatian sebuah jurnal berjudul Inside the Black Mirror: Current Perspective on the Role of Social Media in Mental Illness Self-Diagnosis, penelitian ini menyoroti bagaimana konten terkait kesehatan mental terus muncul sesuai interaksi pengguna sosial media melalui algoritma yang membentuk diagnosa mandiri dan tidak dipahami sebagai bentuk awal kebutuhan untuk mencari bantuan profesional sebagai pemulihan, tetapi justru perlahan melekat menjadi sebuah identitas.
Meningkatnya pembahasan tentang kesehatan mental di ruang publik adalah sebuah kemajuan. Istilah yang dulu hanya dibahas oleh tenaga profesional, kini semakin akrab muncul dalam percakapan sehari-hari. Namun tanpa pemahaman yang utuh, kesadaran ini beresiko untuk berhenti di permukaan, diagnosa klinis perlahan hanya akan dilihat sebagai koleksi label yang sedang tren di sosial media.
Sehingga, masalah yang seharusnya bisa terurai akan semakin bertumpuk dan bisa menjadi bom waktu tanpa pernah menyentuh akar masalah melalui bantuan profesional. Lebih jauh lagi, hal ini juga berpotensi untuk mengecilkan semangat kawan-kawan yang benar-benar membutuhkan bantuan profesional untuk mendapatkan pemulihan. Para penyintas sering kali mendapatkan stigma negatif dan dianggap hanya mengikuti tren. Akibatnya, mereka kehilangan ruang aman untuk berpartisipasi dan berkontribusi di lingkungan sekitarnya karena pandangan yang salah dari lingkungan terhadap kondisi mereka, ini adalah bentuk pengabaian terselubung. Kita perlu menumbuhkan kesadaran bahwa untuk memahami kesehatan mental secara utuh, berarti juga menunjukan semangat untuk pulih, bukan sekedar pemakluman untuk memaksa berhenti berusaha.
Menciptakan Lingkungan Sehat Mental sebagai Tanggung Jawab Bersama
Idealnya, memaklumi adalah cara sebuah lingkungan sehat mental memberikan ruang dan bantuan bagi seseorang yang sedang mengalami krisis. Bagi orang yang mengalami masalah Kesehatan mental, label ini seharusnya menjadi upaya penegakan diagnosis bagi profesional dalam membantu pemulihan. Bukan suatu identitas yang melekat. Menjadi Tangguh secara mental bukan berarti tidak pernah rapuh. Justru, ketangguhan lahir dari keberanian untuk mengakui perasaan, mencari bantuan dan terus melangkah. Di sini diperlukan kerja sama setiap individu dan pemangku kepentingan di lingkungan sekolah dan komunitas untuk saling peduli, agar setiap orang yang membutuhkan bantuan tidak terpinggirkan. Sehingga, setiap orang harus dibekali dengan kapasitas untuk tahu kapan dirinya memerlukan bantuan dan bagaimana cara membantu teman yang membutuhkan, hingga kemana tempat yang harus dituju ketika memang diperlukan.
Hal ini yang dicoba diwujudkan sebagai bentuk kepedulian Pusat Rehabilitasi YAKKUM Melalui Program ASIK (Aksi Sehat Jiwa Inisiatif dan Kontribusi Anak Muda), melihat fenomena yang terjadi di kalangan remaja. Program ini bertujuan untuk menciptakan ruang aman dan nyaman bagi remaja untuk bisa bertumbuh tanpa rasa cemas dan takut. Di 2 wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu, Sleman dan Gunungkidul, Program ASIK hadir di sekolah dan juga karang taruna, lewat berbagai aktivitas. Dari sini diharapkan akan tumbuh potensi yang dapat dikembangkan dan juga menjadi pondasi untuk saling jaga bersama.
Upaya dalam mendampingi remaja dilakukan dengan pendekatan promotif dan preventif, remaja berperan untuk menciptakan lingkungan yang sehat mental. Berbagai kegiatannya meliputi, SEL, konseling dasar, dan juga pelatihan bermedia. Di sini remaja diberikan ruang aman untuk bertumbuh, didengarkan, dan divalidasi,
Selain itu, melalui pendampingan langsung dan kolaborasi dengan pemangku kebijakan, kami percaya akan ada nilai-nilai baik yang dapat disebarkan. Sehingga, kesadaran akan kesehatan mental dan pemulihannya harus dipandang sebagai prioritas utama karena darurat kesehatan mental pada remaja adalah realita yang sedang kita hadapi. Dari kesadaran itu lah akan tercipta lingkungan sehat mental, ruang yang aman untuk bertumbuh, saling mendukung, dan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang menjadi pribadi yang tangguh, berdaya, serta mampu berpartisipasi dan berkontribusi secara setara di lingkungannya.
Penulis: Nadine Kusuma Pangastuti.