Ketika Bunyi Kayu Tenun Kembali Bertalu di Bondo Kodi

Kamis, 04 Juni 2026

Di sebuah tempat di Weekomboko, Desa Bondo Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, bunyi ritme kayu yang saling beradu kembali terdengar. Di bawah rumah panggung gedek beratapkan ilalang tinggi, seorang perempuan bernama Ribka sedang duduk berselonjor. Tangannya dengan lincah bergerak di antara helaian benang merah dan putih seperti bendera Indonesia, merajut motif-motif tebal di atas helaian kain. Di luar rumah, angin pesisir Sumba bertiup kering melewati rumput-rumput yang mengelilingi rumahnya. Bagi orang awam, pemandangan Ribka menenun di depan rumah ini mungkin terlihat biasa. Namun bagi warga Weekomboko, setiap hentakan alat tenun kayu itu adalah bunyi perayaan atas kembalinya sebuah martabat.

Kisah Ribka bermula di tahun 2009. Seperti banyak orang di tanah Sumba, Ribka saat itu memiliki mimpi besar untuk mengubah nasib. Ia bersiap merantau ke pulau seberang, mencari peruntungan untuk kehidupan yang lebih baik. Namun, takdir berkata lain. Sebelum kakinya sempat menginjak pulau seberang, kondisi kesehatan jiwanya terganggu. Ribka mengalami disabilitas psikososial.

Seketika, dunianya berubah drastis. Ribka yang awalnya produktif, mampu melakukan aktivitas sehari-hari, memiliki interaksi sosial yang baik, perlahan kehilangan kendali atas dirinya. Hari-harinya dipenuhi dengan fase emosi yang tidak stabil. Dia sering marah tanpa sebab, menangis dalam keheningan, melamun berjam-jam, hingga berbicara sendiri. Pada titik-titik paling krusial, kondisinya terkadang membahayakan keselamatan dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Keluarga yang kebingungan dan dihadapkan pada keterbatasan akses informasi kesehatan jiwa mencoba berbagai cara. Mereka mendatangi para tetua untuk pengobatan tradisional, berharap ada keajaiban yang bisa menyembuhkan Ribka. Namun, tahun demi tahun berlalu tanpa ada perubahan berarti. Akibat kondisi ini, Ribka harus mengalami eksklusi sosial yang mendalam. Dia tidak lagi menyentuh alat tenunnya. Keterampilan utama yang dulunya menjadi tumpuan ekonomi. Selama lebih dari satu dekade, hidup Ribka sepenuhnya bergantung pada belas kasih dan ruang gerak yang terbatas di dalam rumah.

Titik balik yang dinanti akhirnya tiba pada tahun 2023. Angin segar perubahan itu berembus melalui Program DIGNITY, sebuah inisiatif di bawah kerangka INKLUSI (Kemitraan Australia-Indonesia  Menuju Masyarakat Inklusif). Melalui Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) dan mitra daerah, Yayasan Harapan Sumba (YHS), sebuah wadah baru dibentuk di Desa Bondo Kodi, bernama Self-Help Group (SHG) atau Kelompok Swabantu. Ribka terpilih menjadi salah satu anggota dampingan utama.

Di sinilah pembuktian penting bahwa difabel psikososial tidak bisa pulih jika dibiarkan berjuang sendirian dalam keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan. YHS tidak bergerak sebagai pahlawan tunggal. Mereka membangun sebuah ekosistem dukungan lokal yang terintegrasi.

Pertama, YHS memfasilitasi koordinasi erat dengan Puskesmas setempat untuk memastikan Ribka mendapatkan akses layanan kesehatan jiwa yang ramah, berkelanjutan, dan dukungan obat medis yang konsisten sesuai anjuran dokter. Kedua, Pemerintah Desa memberikan dukungan kelembagaan yang kuat, memastikan keberadaan ruang aman bagi SHG agar dapat terus berjalan tidak hanya bagi difabel psikososial, tetapi juga keluarga, kader kesehatan jiwa, dan masyarakat umum.

Perlahan tapi pasti, melalui pertemuan rutin di SHG, Ribka mulai berinteraksi dengan teman sebaya yang memahami kondisinya tanpa stigma. Ia juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan penguatan kapasitas, baik di tingkat desa hingga kabupaten. Ruang-ruang inklusif inilah yang pelan-pelan mengikis dinding kecemasan dalam diri Ribka, menumbuhkan kembali rasa percaya dirinya yang sempat terkubur belasan tahun, dan membuka mata masyarakat sekitar untuk menerimanya kembali dengan hangat.

Kestabilan kondisi jiwanya yang membaik membuka jalan bagi pemulihan fungsi sosial dan ekonominya. Momentum yang dinanti itu terjadi pada tahun 2025. Dinas Sosial Kabupaten Sumba Barat Daya datang membawa dukungan konkret berupa bantuan 10 dos benang tenun.

Bantuan itu seperti memantik kembali semangat kreativitas yang sudah lama padam dalam ingatan Ribka. Memasuki bulan berikutnya, dengan didampingi caregiver (pendamping/keluarga), Ribka kembali duduk di depan alat tenun kayunya. Hasilnya luar biasa. Dalam waktu singkat, ia berhasil membuat empat lembar kain baju tenun yang indah.

Kain-kain hasil karyanya bukan lagi sekadar produk dagang, melainkan simbol kemandirian. Sebagian kain terjual dan uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, sebagian lagi berhasil dia sisihkan untuk ditabung. Namun, yang paling menyentuh hati adalah ketika Ribka memberikan salah satu kain tenun terbaiknya sebagai bentuk solidaritas kepada tetangganya yang sedang berduka. Aksi sosial ini menjadi bukti mutlak bahwa Ribka bukan lagi sosok yang "bergantung dan diasingkan", ia telah kembali menjadi warga komunitas yang peduli dan berkontribusi secara sosial.

Kisah perjalanan Ribka dari sudut Sumba Barat Daya ini membawa pesan advokasi yang menohok bagi kita semua. Pemulihan difabel psikososial tidak akan pernah efektif jika hanya mengandalkan satu aspek saja. Kisah ini adalah bukti empiris di lapangan bahwa ketika layanan kesehatan medis berjalan beriringan dengan dukungan komunitas (SHG), penguatan kapasitas, serta pembukaan peluang ekonomi, keajaiban nyata itu bisa terjadi.

Ribka telah membuktikan bahwa panti atau ruang isolasi bukanlah satu-satunya jalan keluar. Difabel psikososial memiliki hak penuh untuk pulih, hidup mandiri, dan berkontribusi secara bermartabat di tengah masyarakat. Melalui kolaborasi lintas sektor yang terencana antara Program DIGNITY melalui Pusat Rehabilitasi YAKKUM dan mitra pelaksana Yayasan Harapan Sumba, mitra puskesmas, dan pemerintah daerah, kita diajak untuk percaya bahwa setiap helai benang harapan yang kita rajut bersama, mampu mengembalikan senyum dan masa depan yang inklusif bagi semua.

 

4 Juni 2026

Ditulis oleh: Alfitra Yosi Putrijaya