Pentingkah Layanan Harian bagi Kawan Difabel Psikososial?
Terbatasnya akses informasi dan layanan kesehatan jiwa di tingkat masyarakat masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga dalam mendampingi anggota keluarga dengan difabel psikososial. Padahal, proses pemulihan tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Kawan-kawan difabel psikososial juga membutuhkan ruang yang aman, dukungan sosial, serta aktivitas yang bermakna untuk membantu mereka kembali berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kebutuhan tersebut semakin mendesak mengingat angka gangguan jiwa berat atau disabilitas psikososial berangsur naik. di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) misalnya, Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensinya mencapai 9,3 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan menyadari bahwa pemulihan bagi difabel psikososial tidak bisa hanya berhenti pada layanan kuratif di rumah sakit, namun upaya promotif, preventif, dan rehabilitatif di masyarakat harus menjadi perhatian khusus untuk dapat dikerjakan oleh lintas sektor.
Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah DIY telah menunjukkan komitmennya melalui Peraturan Gubernur DIY Nomor 63 Tahun 2024 tentang Pedoman Penanggulangan Pemasungan dan Bunuh Diri, serta Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial. Salah satu bentuk rehabilitasi sosial berbasis masyarakat yang diamanatkan dalam regulasi tersebut adalah pembentukan Layanan Harian.
Kebijakan ini menjadi angin segar bagi kawan-kawan difabel psikososial. Kawan-kawan memiliki harapan agar adanya peran keluarga dan dukungan lingkungan sekitar untuk memberikan layanan humanis tanpa adanya tindakan-tindakan diskriminatif pasca berakhirnya masa pemulihan di rumah sakit ataupun di panti rehabilitasi.
Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui Project Open the Gate menginisiasi pembentukan Layanan Harian di tiga wilayah, yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta. Layanan ini dirancang untuk mendukung proses pemulihan difabel psikososial melalui berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah.
Prinsip utama yang diusung adalah partisipasi bermakna sebagaimana diamanatkan dalam Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD). Karena itu, kawan-kawan difabel psikososial tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam merancang layanan yang akan mereka gunakan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Pusat Rehabilitasi YAKKUM menyelenggarakan serangkaian Focus Group Discussion (FGD) bersama difabel psikososial di berbagai wilayah. Dari proses ini terungkap beragam kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seorang difabel psikososial laki-laki dari Kemantren Kraton misalnya, menyampaikan keinginannya untuk memiliki tempat “ngopi, nongkrong, dan bertemu teman-teman.” Peserta lain berharap tersedia pendamping seni, khususnya menggambar, agar hobinya dapat berkembang sekaligus membuka peluang memperoleh penghasilan dari hasil karyanya.
Masukan-masukan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan bukan hanya tentang layanan medis, tetapi juga tentang kesempatan untuk membangun relasi sosial, mengembangkan potensi, dan memperoleh kembali peran di masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Layanan Harian mengedepankan prinsip deinstitusionalisasi. Layanan ini bukan merupakan institusi baru dan tidak bersifat menginap. kawan-kawan difabel psikososial akan diantarkan oleh anggota keluarganya, datang pada pagi atau siang hari untuk mengikuti berbagai kegiatan, kemudian kembali ke rumah pada sore hari. Pendekatan ini memastikan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam proses pemulihan sekaligus memperkuat dukungan berbasis komunitas.
Pengembangan Layanan Harian juga dilakukan melalui kolaborasi antara Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Pemerintah DIY, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM), serta berbagai organisasi perangkat daerah lintas sektor. Hingga saat ini, proses koordinasi, asesmen, dan FGD masih terus berlangsung untuk memastikan layanan yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan kawan-kawan difabel psikososial di setiap wilayah. Sebelum diterapkan secara penuh, layanan ini juga akan melalui tahap uji coba sebagai bagian dari proses penyempurnaan.
Layanan Harian diharapkan menjadi ruang yang mendukung pemulihan, memperkuat kemandirian, serta membuka kesempatan bagi kawan-kawan difabel psikososial untuk kembali berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan bermasyarakat. Dukungan dari pemerintah, keluarga, komunitas, dan masyarakat luas menjadi kunci agar layanan ini dapat berkembang dan menghadirkan pemulihan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan bermartabat.
Penulis: Ardhi Cahyanto K.
16 Juli 2026